4 Tahun Berbisnis, Swalayan Milik Orang Minang Yang Tak Jual Rokok dan Tutup di Jam Shalat ini Makin Menginspirasi


Nama Paris Swalayan (grup swalayan Milik orang Minang asli Piaman) agaknya makin naik daun dalam dunia retail lokal Sumbar dan daerah-daerah sekitarnya. Betapa tidak, grup yang membawahi Paris Swalayan dan Grand Djaros Swalayan ini telah memperlebar sayap bisnis hingga memiliki banyak cabang di sejumlah kawasan. Ada yang penulis catat tentang korporasi penjualan berbagai kebutuhan harian ini. Pertama bahwa Paris telah mempelopori usaha untuk menyehatkan masyarakat, terutama dengan mempertahankan prinsip tidak menjual produk rokok. Tentu ada hal yang penting dipetik sebagai hikmah dari tindakan berani ini. Bahwa ditengah deru bisnis retail yang akrab dengan deretan produk pengasapan beraroma tembakau di belakang meja kasir, Paris justru menolak mengambil keuntungan dari sejumlah resiko yang harus didera pembeli rokok. Tidak dengan berkoar, tindakan ini adalah langkah jelas untuk mendidik masyarakat menuju pola hidup sehat. Menjual atau tidak menjual rokok tentu menjadi hak pengelola. Dan nyatanya, Paris tetap diminati walau tidak menyediakan rokok jenis apapun. Kedua, bahwa Paris grup dengan disiplin telah menerapkan praktek tutup ketika datangnya jam shalat. Lagi-lagi ini adalah langkah edukatif untuk membiasakan pelanggan menghargai jam ibadah. Dan bagi para karyawan sendiri, ini adalah kesempatan untuk menimba pahala lewat shalat. Suatu ketika, pengelola pernah menyampaikan pada penulis bahwa dalam sebuah perusahaan, kesehatan karyawan adalah tiang kesehatan usaha. Sehat disini ternyata tidak hanya soal fisik saja, tetapi juga soal mental spiritual. Aalah sebuah langkah besar yang patut diapresiasi jika ada korporasi yang berani mengurangi waktu kerja karyawan untuk memberikan mereka kesempatan menjaga iman. Kini, Paris Grup makin santer jadi bahan pembicaraan berkat langkah terkini dalam melawan sampah. Dibawah komando Farhan, eksekutif muda asal Piaman, Paris Grup sepertinya menyadari betul bahwa sampah, terutama yang berasal dari bahan plastik turut di suplay oleh produk yang mereka perdagangkan. Karena itu, pengelola mengambil langkah dengan membiasakan pembeli tidak bergantung pada kantong plastik yang disediakan swalayan. Dengar-dengar, masih ada sejumlah langkah yang sedang disiapkan untuk menindaklanjuti program awal ini. Yang jelas, perlahan-lahan Paris Grup ingin mempertegas peran sertanya dalam menjaga kesehatan lingkungan. Paris Swalayan hari ini dikelola oleh tim yang didominasi kalangan muda. Pikiran yang bernas dan cerdas dalam memberi makna pada tiap langkah bisnis yang diambil adalah hal yang patut ditiru pengusaha lainnya. Bisnis agaknya kini tak patut hanya terfokus pada persoalan untung rugi saja, tetapi juga dampak sosialnya bagi masyarakat. Semoga di usia ke empat ini, Paris Swalayan Grup di bawah naungan Abadi Grup makin berjaya. Salam Kreatif!

Comments

Post a Comment